10th Angkor Photo Festival

Sebelumnya saya harus menyampaikan terima kasih kepada organizer Angkor Photo Festival atas waktu dan tempat yang diberikan, The Invisible Photographer Asia untuk kesempatan bergabung dalam IPA Photobook Show, Tommy N. Armansyah dan Gregory Rusmana serta Romi Perbawa untuk pinjaman beberapa bukunya, Gyaista Sampurno , Sari Asih , Yoppy Pieter dan Rian Afriadi untuk dummy bukunya dan tak lupa fotografer-fotografer lain yang sudah mengeluarkan karya mereka yang terbaik.

Sebagai catatan nampaknya hanya sedikit yang bisa saya berikan karena acaranya sendiri berformat sebagai showcase, dimana orang dapat membaca dan melihat buku-bukunya dengan bebas. Tidak banyak pertanyaan yang muncul mengenai buku-buku dari kita namun banyak rasa kekaguman. Pertanyaan yang muncul mungkin ketika saya mempresentasikan sedikit tentang buku foto Indonesia, baru mereka agak sedikit heran bahwa dengan cost yang sedikit kita mampu menerbitkan beberapa judul buku.

Disana pula saya membicarakan tentang konsep buku selain untuk magnum opus (bukti pencapaian) yang sebelumnya sudah didiskusikan dengan Erik Prasetya. Dimana Erik juga mengeluarkan beberapa title dengan beberapa tujuan seperti misalnya untuk tetap berkonsentrasi atas project jangka panjang, memperlakukannya untuk menciptakan kapital untuk melanjutkan project yang tadi atau mungkin sebagai bargaining chip, ketika berhadapan dengan otoritas fotografi (klaim bahwa seorang fotografer dapat menghasilkan sebuah 2 buku dan sold out adalah klaim yang sangat besar).

Untuk buku-buku favorit sendiri saya rasa karena banyak penonton yang tidak mengerti konteks buku Indonesia yang ditawarkan maka buku SOS yang dari segi kualitas dan tema menjadi buku favorit bersama dengan Riders of Destiny. Hal ini paling tidak menunjukkan bahwa fotografer Indonesia dapat bercakap secara visual melalui fotografi dan diharapkan dapat menghasilkan karya yang nantinya lebih dapat mendunia kembali.

Sebagai tambahan, saya secara pribadi mengundang rekan rekan untuk bertandang ke Angkor Photo Festival karena banyak sekali manfaat yang bisa diambil jika kita datang ke acara tersebut, tidak hanya melihat pameran-pameran serta slideshow tapi kita juga mendapatkan banyak ilmu dari portfolio review, networking dan bercengkrama dengan orang-orang yang memang ahli di bidangnya.

——-

First and foremost I would like to say my enormous gratitude to the organizer of Angkor Photo Festival, The Invisible Photographer Asia for the opportunity to present Indonesian book in the IPA Photobook Show, Tommy Armansyah, Gregory Rusmana, Romi Perbawa for lending us their books, Gyaista Sampurno, Sari Asih, Yoppy Pieter, Rian Afriadi for their dummies and all the photographers that has released their best works.

This would be a brief notes as the event itself is a showcase based where people could look and browse at the book freely, there are quite a few questions during my presentation however the consensus is saying admiration. The questions mostly regarding the low cost of our book productions.

During the presentation I also discussed about the concept of book except as a Magnum Opus, in which I have discussed prior with Erik Prasetya. Erik had released his postcard series as a method to concentrate on long term project and to create capital or to act as a bargaining chip when the photographer is facing a photographic authority (by claiming that the photographer can release 2 sold out limited edition book)

For the favourite book, it was noted that a lot of people would need context to make people understand about a particular book, however if we looked at a universal theme conveyed in SOS and Riders of Destiny those two would be the favorite.

As an addition, I would like to ask you to actually attend the Angkor Photo Festival because there’re a lot of things you can actually learn when we’re there, it’s not only looking at the exhibition and slideshow but also the portfolio review and the networking.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *