Interview dengan Romi Perbawa

Kita bertemu sejenak dengan Romi Perbawa untuk berbincang mengenai buku Riders of Destiny dan tentang apa rencana beliau ke depan.

Interview telah diedit sesuai dengan persetujuan Romi

image

1. Boleh dijelaskan bagaimana prosesnya untuk proyek foto ini dan lalu bagaimana akhirnya memutuskan untuk membuat buku?

Berawal dari tahun 2010 saat diajak teman saya yg tinggal di Sumbawa, untuk memotret pacuan kuda yg terkenal dengan joki ciliknya, saat itu saya menyaksikan seorang joki jatuh tepat di depan saya dan kejadian tersebut yang membuat saya ingin mengetahui lebih banyak mengenai nasib/realita kehidupan dari anak-anak joki ini.  Bagaimana sekolah mereka, kenapa orang tua mengijinkan atau tega menjadikan anak mereka menjadi joki, apakah karena faktor budaya? Atau ekonomi, dan lain-lain pertanyaan-pertanyaan inilah yang berkecamuk dalam diri saya.

Saya lalu mencoba mencari  referensi catatan-catatan atau buku atau melakukan pencarian dengan googling, akan tetapi saya tidak mendapatkan informasi yg cukup. Hal itu yg menjadikan niat saya semakin bulat untuk membuat buku The Riders of Destiny

2. Anda kembali secara berulang-ulang ke tempat yang sama untuk mendokumentasikan hidup para joki cilik ini, apakah ada resistensi dari para orang tua atau tetua adat terhadap kedatangan anda?

Mereka, orang-orang yang saya temui, hampir semuanya sangat baik dan welcome.

3. Saya dengar buku ini melibatkan banyak orang dalam prosesnya seperti Oscar Motuloh dan Ahmad Salman (Deny Salman) atau mungkin yang lain lagi, bagaimana peranan masing-masing orang tersebut dan siapa yang akan mengambil keputusan akhir jika misalnya ada deadlock?

Ini pengalaman pertama buat saya dalam membuat buku photo dengan background saya yang bukan seorang journalist atau fotografer documenter, maka dari itu project ini sekaligus untuk menerapkan pelajaran tentang photostory yg saya dapatkan dr Mas Deny Salman dan pengetahuan tentang foto journalist dari kelas khusus GFJA(Galeri Foto Jurnalistik Antara).

Mas Deny berperan sebagai mentor juga dalam project in. dan Mas Oscar sebagai editornya. Peranan mereka sangat penting sekali dalam mematangkan project ini yang sekali lagi buat saya merupakan proses pembelajaran juga.

Tak lupa juga masukan-masukan dari teman-teman yang punya pengalaman foto jurnalis. Karena ini project pribadi saya, keputusan terakhir tetap ada pada saya

4. Apakah pelepasan buku ini sendiri memiliki tujuan? saya dengar mas Romi juga sudah berhasil membelikan pengaman terhadap para joki lalu juga ada pengurangan kegiatan balapan (dari empat ke satu kali dalam setahun) apakah memang ini tujuan akhirnya?

Tujuan awal saya menerbitkan buku tidak berani muluk-muluk mau memberikan bantuan atau apa-apa, saya hanya ingin mendokumentasikan secara lengkap realita dari apa yg saya telusuri dan saya saksikan dari kehidupan para joki dan memberitahukan kepada dunia agar ada yg peduli terhadap mereka, keamanan mereka, sekolah mereka.

5.Terakhir kali kita berjumpa Mas Romi bicara tentang proyek-proyek terbarunya, yaitu mengenai pertambangan tradisional dan portrait para tatung, boleh dijelaskan lebih jauh tentang proyek ini dan apakah ini akan dijadikan sebuah buku juga?

Semoga, project tentang Tatung akan menjadi buku ke dua saya.

6. Apa saran yang bisa anda bagi kepada para fotografer lain, terutama bagi mereka yang mau memulai melakukan proyek jangka panjang?

Niat, totalitas dan fokus konsisten. Tak kalah pentingnya kesadaran akan perlunya me-management waktu kita apalagi bagi yg bekerja di bidang lain (non-profesional)

——-

1. Can you explained to us how are the process to create this photo project and then how do you finally decided to make a book?

It started from the year 2010 when I was invited by my friend who lived in Sumbawa to photograph the horse racing jockey, back then I saw a jockey fell right in front of me and that incident made me curious about their fate and the reality of this child jockeys. How are their education or why their parents are allowing them to become a jockey, is it due to cultural factors? Or economic, and there are a lot of other questions which I am curious about.

I then tried to find a reference notes or books or do a google search regarding these jockeys however I do not get enough information. Because of that then I decided to work on to create The Riders of Destiny

2. You return extensively to the same place to document the lives of these young jockey, is there any form of resistance from their parents or elders to your arrival?

They, the people I met, almost all of them are very good and welcome.

3. I have heard of this book involves a lot of people in the process, such as Oscar Motuloh and Ahmad Salman or perhaps another, how are the role of each person and who will take the final decision if for example, there is a deadlock?

This is the first experience for me in making a photobook  and with my background who is not a journalist or documentary photographer, I used  the opportunity to apply the lessons of creating a photo story that I get from Ahmad Salman and when I took a special photojournalism class in GFJA (Galeri Foto Jurnalistik Antara

Ahmad Salman also serves as a mentor in the project. and Oscar as the editor. Their role is very important in finalizing this project in which again, is a learning process for me as well.
I do not forget the input of my friends who are experienced photojournalist themselves.

Because this is my personal project, the final decision remains with me.

4. Does the release of the book itself has a purpose ? I heard you also managed to buy a protector for the jockey and also able to push a reduction in the racing activity (from four to one times a year) if this is the end goal?

My initial goal was not about providing assistance or anything, I just wanted to document the full reality of what I see and I witnessed during my stay with the children and to tell the world about the lives of jockeys so someone could pay more attention about them, their security and their education.

5.Last time we met you were talking about you latest projects, namely the traditional mining and the portrait of Tatung, can you explained further on this project and whether it will be published as a book as well?

Hopefully, the project of Tatung will be my second book.

6. What advice can you share with other photographers, especially for those who want to start doing long-term project?

Intention, full immersion in the project and consistently focusing on doing it. Another equally important is to be aware of time management especially for non-professional photographer like me

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *